Tampilkan postingan dengan label pendahuluan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendahuluan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2016

Bacalah Firman Tuhan dengan Baik



Setiap orang  yang pernah sekolah di tingkat SD tentu bisa membaca meskipun cara membacanya tidak seefektif tingkat atas. Dalam  membacakan suatu bacaan, tentu kita sering menemukan perbedaan membaca. Hal ini terlihat dengan  jelas ketika kita membandingkan antara pembacaan seorang anak SD yang suaranya putus-putus, anak  SMP atau anak SMA dengan seorang pembaca berita di RRI. Semua ini tentu memiliki perbedaan yang kentara.

Kita sering mengatakan bahwa membaca dengan baik adalah bila kita membaca seakan-akan teks yang dibaca tidak dibacakan tetapi diceritakan dengan kata-kata sendiri. Pendapat  seperti itu tidaklah sepenuhnya benar. Hal tersebut disebabkan karena orang yang membaca Kitab Suci adalah mewartakan Sabda Allah, bukan  ide atau pendapatnya sendiri. Maka pembaca tidak cukup hanya mengucapkan denga nada yang datar (monoton) dengan kata-kata yang dicetak dalam teks bacaan.

Untuk membaca dengan baik, seorang penbaca perluh adanya pelafalan (pronunciation) yang tepat dan pengucapan (articulation) yang jelas. Selain, itu masih banyak kriteria yang perluh diperhatikan. Bacaan tersebut dapat diterima  dan sungguh-sengguh masuk pada  para perdengar, hal ini berarti para pendengar:
  • Mengangkap bacaan di telinga.
  • Dipahami dengan  akal.
  • Dan meresap ke dalam  hati
Maka yang dimaksud dengan menbaca dengan baik adalah bila pembaca membawakan suatu teks dengan memahami serta menghayatinya sendiri, sehingga dalam membacanya ia dapat mengadakan variasi ketegangan, lagu dan irama dan para pendengar dapat menangkapnya dengan telinga, budi, dan hati.

Pengertian dan Sejarah Lektor



Kata “lektor” berasal dari bahasa Latin lector-oris (kata benda) dan berkaitan dengan kata kerja lectere, lectitere yang merupakan bentukan dari kata kerja legere artinya membaca, membacakan. Dalam Ensiklopedia Gereja Katolik III, 1973, kata lektor berisi dua makna:
  • Petugas pria awam yang dilantik secara tetap oleh uskup atau  superior untuk memabacakan Kitab Suci (kecuali Injil) dan Mazmur kepada seluruh umat.
  • Warga umat, baik laki-laki maupun perempuan yang ditugasi membacakan Kitab Suci dalam perayaan  liturgy (KHK  kan. 230, 2).

Perubahan dalam Peran Lektor
Tugas pembaca Kitab Suci sudah ada sejak tradisi Yahudi. Tugas ini dilakukan oleh kaum laki- laki yang dipercayakan dan ditunjuk oleh jemaat. Selain membacakan bacaannya, petugas juga mengajarkan isi sabda yang dibacakan.
Dalam tradisi jemaat Korintus, telah terjadi pembagian  tugas pelayanan dalam ibadat bersama. Walaupun ada pembagian tugas pelayanan, peran laki- laki sangat dominan seperti halnya pada tradisi Yahudi. Pada masa Yustinus Martir, tidak ada kejelasan mengenai siapa petugas pembaca itu. Di sini hanya dikatakan “seorang pembaca”, tidak jelas laki-laki atau perempuan. Namun, peran  lektor sebagai pembaca sangat tegas dan jelas diungkapkan Yustinus Martir dalam  Apologi pertamanya.
Perkembangan lain terjadi pada masa Tertullianus. Pada masa itu, peran umat biasa semakin berkurang. Pembacaan sabda di dilakukan oleh lektor yang sudah dikhususkan, maksudnya orang awam yang masuk dalam Ordinationis. Dalam perkembangan selanjutnya, lektor ditempatkan sebagai sebutan salah satu tahap dalam pendidikan calon imam, yakni Pelantikan Lektor Akolit.
Perubahan lektor yang sangat berarti terjadi pada akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5. Pada masa itu, tugas membacakan sabda diserahkan kepada awam. Mereka dipercaya membacakan di depan umum. Pada abad pertengahan, perkembangan lektor seakan–akan terputus akibat  semakin maraknya kebiasaan umat merayakan Ekaristi pribadi di kalangan klerus (rohaniwan). Liturgi menjadi liturgy klerus dan awam semakin terasing dari Liturgi Gereja.
Pada masa Konsili Trente sampai Konsili Vatikan II, struktur uskup, imam, diakon, dan lektor masih tetap dipertahankan. Persoalan lektor awam belum mendapat tanggapan yang serius dari para Bapa Konsili.
Akhirnya, sejak Konsili Vatikan II hingga sekarang, perkembangan yang luar biasa terjadi. Gereja mau membuka sendiri, mau mengadakan perubahan di segala bidang kehidupan. Pertisipasi umat beriman (awam) dalam liturgi, termasuk lektor semakin digalakkan. Lektor tidak lagi eksklusif untuk kalangan terthabis, namun diberlakukan juga untuk awam dengan suatu pelantikan.

Syarat Penting Menjadi Seorang Lektor



Untuk menjadi petugas pelayan yang penting dalam Perayaan Ekaristi tersebut, dibutuhkan beberapa persyaratan. Berikut persyaratan menjadi seorang lektor versi web Panduan Lektor | SilSurya.xyz.



  1. Pertama- tama yang harus dimiliki seorang lektor adalah NIAT, yang meliputi kemauan bertugas, kemauan berlatih terus-menerus, dan ma u terus berkembang dalam iman.
  2. Sesudah memiliki kemauan, ia harus mempunyai kemampuan. Kemampuan yang dituntut seorang lektor adalah kemampuan membacakan dan mengerti isi bacaan yang baru saja dibacakan. Setelah mempunyai kemampuan membaca dan mengerti isi bacaan, seorang lektor dituntut untuk mengimani apa yang dibacakan
  3. Selain membacakan untuk orang lain, seorang lektor harus terlibat, mendengarkan bacaan itu sehingga ia sungguh- sungguh menjadi pewarta apa yang ia sendiri hayati dan imani.
  4. Selanjutnya, ia harus mempunyai semangat kerja sama di dalam diri lektor. Semangat kerja sama ini sangat penting di dalam Perayaan Ekaristi. Dengan semangat kerja sama ini, diharapkan dimensi kebersamaan, kesatuan dalam Perayaan Ekaristi. Kerja sama ini dapat terwujud oleh lektor dengan sesama lektor, dengan tim liturgi gereja, dengan pastor yang memimpin, dengan tim liturgi lainnya.
  5. Sebagai petugas atau pelayan umat, seorang lektor harus siap untuk mendapat masukan, kritikan, evaluasi, dan perbaikan- perbaikan yang bersifat membangun, bahkan tanggapan atau komentar yang sinis dari umat lain. Dengan kerendahan hati dan keterbukaan hati untuk mendengar dan memperhatikan masukan yang ada, seorang lektor akan semakin berkembang dan pelayanan gereja akan semakin ditingkatkan sehingga karya keselamatan Allah semakin dapat dirasakan dan dihayati semua umat beriman yang hadir dalam Perayaan Ekaristi yang sedang dirayakan bersama- sama.
  6. Yang terpenting  dari semuanya itu adalah bahwa seorang lektor berusaha untuk selalu mencintai Kitab Suci.

Copyright © Panduan Lektor | herjuna.com | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com