Tampilkan postingan dengan label teknislektor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknislektor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2016

Enam Tips Mengatur Suara untuk Seorang Lektor

Kalau kita membaca, kita tentu ingin supaya suara kita dapat mencapai orang yang hadir, juga mereka yang duduk di pojok paling jauh. Untuk itu kita dapat meninggikan suara, sebab suara yang yang tinggi dapat juga lebih keras. Tetapi cara itu kurang baik. Kalau kita terus berbicara dengan suara tinggi, selaput suara diforsir. Apalagi suara kita menjadi dapat dibuat – buat dan kurang enak untuk didengar.
Maka perhatikan supaya mulai membaca dengan suara yang cukup rendah. Ketinggian suara yang baik ialah ketinggian yang kita pakai untuk berbicara biasa. Dalam pembacaan Kitab Suci, seorang lektor perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain: Artikulasi, Intonasi, Power, Pause/Jeda, Prasering, dan Penjiwaan. Berikut ulasan dari web Panduan Lektor | SilSurya.xyz.



Artikulasi
Membaca lambat adalah syarat mutlak untuk mengucapkan setiap kata dengan baik. Dalam pembicaraan yang cepat, pengucapan kata-kata sering salah dan beberapa kata sama sekali tertelan dan juga beberapa huruf dianaktirikan (hilang diantara huruf-huruf yang lain. Maka demi pengucapan yang baik, lector harus membaca agak lambat. Tetapi kita harus memperhitungkan juga bagaimana kondisi tempat kita berbicara.

Intonasi
Kalau bernyanyi, kita mengucapkan kata-kata dengan memakai suatu lagu. Lagu-lagu itu terdiri dari nada-nada yang dapat ditulis dengan angka. Angka lebih tinggi berarti: nada suara naik, angka lebih rendah berarti: nada suara turun.
Misalnya: kalau orang berseru dengan heran “ehh”, suara dapat naik beberapa not. Tetapi jika orang nmengerang kesakitan “aduh”, suarah dapat turun sampai satu oktaf. Itulah yang disebut intonasi lagu dalam membacakan buku bacaan atau membacakan Kitab Suci.
Menurut Pastor J.Waskito, SJ, nada suara seorang lector ada dua yakni Arsis (kalimat yang tekanan kalimat terakhirnya dinaikan) dan Thesis (kalimat yang tekanan kalimat pada akhir kalimat diturunkan)

Power dan Pemakaian Mic
Banyak gereja memakai pengeras suara, yaitu suatu pelengkap teknik yang terdiri dari mic (microphone), amplifier, dan loundspeaker, yang bertujuan untuk memperluas jangkauan suara pemimpin ibadat atau lektor.
Seorang lektor harus tahu bagaimana pengeras suara dapat dimanfaatkan dengan baik. Banyak pengeras sura tidak memenuhi syarat, kadang- kadang lebih menggagu daripada menolong, karena peralatannya kurang sesuai untuk ruang doa itu, atau karena salah pasang, atau karena alat-alat yang dipakai kurang bermutu. Maka seorang perlu memperhatikan beberapa hal berikut.
  • Apakah volume pengeras suara sesuai dengan suara anda? Mungkin pastor yang sedang memimpin Perayaan Ekaristi kebetulan mempunyai suara yang lemah. Kalau demikian, mungkin sekali pengeras suara di gereja disetel terlalu keras untuk suara anda. Padahal tidak mungkin mengubah volume pengeras suara setiap kali seorang lektor lain tampil ke mimbar.
  • Lektor harus pandai menentukan jarak. Ya, anda sendiri sebagai lektor harus mengatur volume dengan mengambil posisi lebih dekat atau lebih jauh dari mic. Semakin jauh dari mic, semakin lemah suara pengeras dan sebaliknya. Kalau jarak anda dengan mike sudah tepat, jangan maju mundur lagi, tetapi pertahankan jarak yang sama, supaya suara yang keluar dari pengeras jagan pasang surut terus.
  • Ingat, pengeras suara bukan siaran radio. Secara teknis mungkin saja seorang lektor berbicara dengan suara lemah, seperti orang yang duduk-duduk di angkringan sambil minum teh. Asal dekat sekali dengan mic, suara lemah dapat menjadi cukup besar untuk didengar melalui pengeras. Cara bicara yang demikian adalah  cocok intuk digunakan di depan mic di studio radio atau di TV.
Lektor sendiri hampir tidak dapat menentukan apakah akibat suara pemakaian olehnya. Maka itu membutuhkan koreksi dan petunjuk dari orang lain. Maka, lebih-lebih  berhubungan dengan pemakaian mic, berlakulah nasihat: jangan ragu-ragu minta kritik dari pendengar!

Pause/Jeda
Unsur ini diperlukan untuk meresapkan pesan dari Kitab Suci bagi umat, juga untuk mengganti suasana.

Frasering
Frasering adalah pengelompokkan kata tetapi belum menjadi kalimat. Contoh: Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu / yang bernama Gamaliel, … (Kis.5: 34).  Pengelompokkan kata salah, artinya bisa lain. Contoh: Kamu suka makan jambu / monyet?

Penjiwaan
Penjiwaan itu mantab bila kelima kriteria di atas itu terpenuhi. Bila satu diantara lima kriteria di atas tidak tepenuhi, maka penjiwaan menjadi “kering”.


Tips Pernapasan yang Tepat Untuk Tugas Lektor

Mungkin kita sudah pernah ujian secara lisan. Mungkin juga kita sudah pernah ditugaskan untuk berbicara di depan umum. Dalam keadaan itu saraf kita menjadi tegang sedang pernapasan menjadi tersendat-sendat. Cara bernapas yang kurang teratur itu mempersulit pembicaraan, mungkin sampai kita tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Hal itu tidak mengherankan, sebab untuk berbicara kita harus mengeluarkan napas. Oleh napas yang dikeluarkan, selaput suara mulai bergetar. Maka napas itu mulai kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tariklah napas dengan cepat tetapi dalam. Keluarkan napas dengan sehemat-hematnya. Hal hal ini yang juga dilakukan oleh orang yang bernyanyi.




Cara terbaik sebelum seorang lektor membacakan Kitab Suci adalah dengan mengontrol pernapasan. Tariklah napas panjang dengan sadar beberapa kali sebelum mulai membaca. Maka kita pasti akan dapat membaca dengan lebih tenang serta dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.
Seorang lektor perlu memperhatikan pernapasan yang dipakai saat membacakan Kitab Suci. Untuk memperjelas, ada dua cara untuk bernapas:

Pernapasan dada
Bernapas dengan hanya memakai rongga dada bagian atas. Kalau memakai cara ini hanya bagian atas rongga dada agak mekar sedang bahu agak ditarik maju.

Pernapasan perut
Bernapas dengan memakai rongga dada bagian bawah. Kalau memakai cara ini, rusuk diangkat sedang perut juga turut mekar. Agar dapat bernapas dengan baik, jangan memakai ikat pinggang atau pakaian yang terlalu kencang.

Bagaimana kalau bernapas melalui hidung atau mulut?
Menghela napas sebaiknya melalui hidung. Tetapi cara itu hanya dapat dipakai kalau istirahat di antara kalimat- kalimat cukup panjang. Kalau seorang pembaca hanya dapat istirahat singkat saja, maka ia terpaksa menghelas napas melalui mulut.
Sebaiknya kalau pada waktu persiapan, pembaca sudah menentukan pada saat apa ia akan menghela napas. Dengan cara itu dapat di jaga supaya pembacaan jangan sekonyong-konyong terputus karena pembaca kehabisan napas.

Empat Tips Menjadi Seorang Lektor

Umat tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat pembaca. Hal semacam itu harus diperhitungkan. Oleh karena itu, kalau pembaca ingin agar pembacaanya disambut dengan baik, haruslah ia menjaga agar sikap, cara berpakaian, gerak-gerik dan seluruh penampilannya dapat diterima dengan baik pula. Pembaca harus berkontak dengan para pendengarnya, tetapi usaha untuk berkontak dapat digagalkan oleh penampilannya yang kurang sedap. Maka di bawah ini dijelaskan beberapa cara agar pembaca membacakan dengan tenang dan baik versi web Panduan Lektor | SilSurya.xyz.




Perhatikan cara berjalan
Berjalan ke mimbar harus tenang, sopan tapi tegak. Jangan terburu-buru, seperti dikejar anjing. Jangan pula berjalan seperti orang yang diseret ke pangadilan atau terhuyung-huyung seperti orang mabok.

Perhatikan cara berdiri
Berdiri tegak, pakailah dua kaki. Dengan berdiri tegak, anda sendiri akan merasa lebih mantap.

Perlakukan Kitab Suci dengan hormat
Buku bacaan sebaiknya dipegang dengan dua tangan dan diangkat cukup tinggi, supaya pembaca dapat membacakan tanpa menundukkan kepala. Kalau ada sesuatu untuk meletakkan buku di atasnya, sebaiknya tangan tidak lepas, tetapi diletakkan di pinggir mimbar. Bukannya untuk bersandar di mimbar, tetapi untuk menampakkan bahwa buku bacaan dengan pembaca merupakan kesatuan.
Perlu diperhatikan bahwa mimbar bukanlah perpustakaan. Maka jangan menumpuk macam- macam buku di mimbar. Jangan meletakan buku di lantai altar atau di bawah altar. Jangan meletakkan macam-macam sobekan kertas dan catatan dalam buku bacaan, tetapi tentukanlah pita atau kertas tertentu sebelum mulai membaca atau pakailah sebuah penunjuk halaman yang pantas. Jangan melipat sudut halaman buku. Untuk membalikkan halaman jangan membasahinya dengan air ludah. Jangan mencemarkan buku dengan catatan atau corat-coret.

Pakaian
Pakaian pantas untuk seorang lektor ialah bersih, sopan, sederhana, dan tidak terlalu menarik perhatian. Hal yang sama berlaku untuk sepatu, potongan rambut dan perawatan kuku tangan. Apakah seorang lektor sebaiknya berjubah atau berseragam lain, atau berpakaian setelan atau yang lain lain, tergantung dari situasi atau tradisi setempat. Pakaian apa yang sesuai tergantung dari corak perayaan liturgi apa yang diadakan.

Hal Teknis yang Harus Diketahui Oleh Lektor

Lektor bertugas untuk membacakan orang lain. Dalam kategori teknis termasuk kegiatan membaca nyaring. Kenyaringan dimaksudkan agar umat dapat mendengar dengan jelas, mengikuti dengan nyaman, dan menangkap isinya dengan tepat. Untuk mewujudkan semuanya itu, seorang lektor perlu melaksanakan beberapa tahap. Tahapan ini meliputi persiapan lahir, teknis, dan batin. Secara umum, persiapan diarahkan agar ketika membacakan Sabda Tuhan, pendengar terbantu memusatkan perhatian pada isi bacaan. Berikut ulasan tahapan-tahapan yang harus dilakukan lektor versi web Panduan Lektor | SilSurya.xyz.



Persiapan lahiriah
Persiapan lahiriah berkaitan dengan penampilan lahiriah seorang lektor. Persiapan lahiriah mulai dari pakaian, make up, tata rambut, sepatu, dan sebagainya diupayakan membantu lektor untuk membacakan Sabda Tuhan. Untuk lektor Gereja Katolik, perhatikan Pedoman Umum Missale Romawi yang menyebut bahwa akolit, lektor dan pelayan awam  lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gereja yang bersangkutan (PUMR 339).
Penampilan yang wajar lebih membantu dibandingkan yang mencolok. Demikian juga make up, tata rambut, sepatu, dan aneka aksesori yang lain (pada beberapa gereja seorang lektor tidak memakai alas kaki seperti sepatu atau sandal saat bertugas). Hak sepatu yang bersuara nyaring akan menarik perhatian umat dan mengganggu perhatian pada isi bacaan. Yakinan kondisi fisik dalam kedaan sehat dan berfungsi normal (tidak sedang flu, batuk, pilek, sariawan, sakit gigi, tenggorokan kering, dan sebagainya).

Persiapan teknis
Lektor harus mengenali konvensi penulisan dan pembacaan kutipan bacaan. Pada perjanjian lama senantiasa menempatkan nama kitab (Kejadian, Keluaran, Amsal), penulis kitab (Yesaya, Yeremia, Yoel, Amos, dan sebagainya, atau tokoh kitab (Raja-raja, Hakim-hakim). Konvensi penulisannya nama kitab/ penulis/ tokoh diikuti bab:ayat seperti pada contoh berikut.



Konvensi   Penulisan
                                                                         Konvensi Pembacaan
Kejadian 1:1-31
Kitab kejadian, bab satu, ayat satu  sampai tiga puluh satu
Yeremia 3:6-13
Kitab Nabi Yeremia, bab  tiga, ayat enam  sampai tiga belas.
I Tawarikh 9:35-44
Kitab pertama  Tawarikh, bab sembilan, ayat tiga puluh lima sampai empat puluh empat.
Daniel 12:1-13
Kitab Daniel, bab 12, ayat satu sampai tiga belas.


Dalam Liturgi Sabda di mayoritas gereja, lazimnya hanya dibacakan bab dan ayat saja. Jadi pengucapannya tidak menyertakan tema bacaan, seperti pada contoh berikut:
Pembacaan dari Kitab Kejadian 1:1-2:1
Lalu bagaimana untuk pembacaan perjanjian baru? Perjanjian Baru dikelompokkan menjadi dua, yaitu Injil dan bukan Injil. Dalam tradisi Kristen, terdapat empat Injil, yakni Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Yang bukan Injil adalah Kisah Para Rasul, Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma, Surat Santo Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus, Surat Santo Paulus yang Kedua kepada Timotius, Surat Yakobus, Surat Petrus yang Pertama, Surat Petrus yang Kedua, Wahyu kepada Yohanes, dan sebagainya. Konvensi penulisannya sebagai berikut:



Konvensi   Penulisan
                                                                         Konvensi Pembacaan
Mark. 6:1-5
Injil Markus, bab enam, ayat satu sampai lima
Ibrani 11:1-40
Surat kepada orang Ibrani, bab sebelas, ayat  satu  sampai empat puluh
Roma 1:1-7
Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, bab satu ayat satu samapai tujuh
II Kor 4:1-15
Surat Santo Paulus yang kedua kepada Jemaat di Korintus, bab 4, ayat satu sampai lima belas
II Tim 2:1-13
Surat Santo Paulus yang Kedua kepada Timotius, bab dua, ayat satu sampai tiga belas
II Petrus 1:1-2
Surat Santo Petrus yang kedua, bab satu, ayat satu sampai dua
Wahyu 11:15-19
Wahyu kepada Yohanes, bab sebelas, ayat lima belas sampai Sembilan belas


Dalam Liturgi Sabda di gereja dan juga di kampus, lazimnya bab dan ayat tidak dibacakan. Jadi untuk Injil dibaca Inilah Injil Yesus Kristus meurut Santo Matius. Untuk yang bukan Injil hanya dibaca: pembacaan dari Kisah Para Rasul, dan sebagainya, seperti pada contoh berikut.
Bacaan Injil: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 28:1-10
Bacaan Non-injil: Pembacaan dari surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma 6:3-11
Yang tak kalah pentingnya adalah seorang lektor harus mengenali tempat,orang, benda, dan peristiwa. Kitab Suci berisi kisah-kisah yang berasal dari lingkungan geografis, alam, sosial, dan budaya yang tertentu yang berbeda dengan lingkungan, geografis, alam sosial, dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, seorang lektor sebaiknya mengetahui dan membedakan nama tempat, orang, benda, peristiwa dan sebagainya. Hal tersebut membantu lektor dalam mengintepretasi secara tepat.

Cara Mempersiapkan Diri dalam Pelayanan Lektor


Untuk mempersiapkan diri dalam melaksanakan tugas sebagai lektor, diperlukan latihan dan pratik membacakan Sabda Tuhan sebelum melaksanakan pembacaan di Mimbar Sabda. Praktik membacakan menurut persiapan teks yang akan dibaca dan menetapkan pendengar. Biasanya, teks Perayaan Ekaristi/Ibadat sudah dicetak oleh gereja. Hal tersebut mengasumsi bahwa naskah sudah dapat diperoleh sebelumnya. Cara tersebut sekaligus untuk mengoreksi kemungkinan ada salah tulis atau salah kutip agar dapat diupayakan mencari rumusan yang sebenarnya.
Praktik membacakan Sabda Tuhan dapat dilakukan di rumah dengan memanfaatkan anggota keluarga sebagai umat (jika ada anggota keluarga) atau teman di sekitarnya. Setelah praktik membacakan Sabda Tuhan, anggota keluarga atau teman yang berlaku sebagai umat, diminta mengomentari dan member saran yang perluh dibenahi. Akan tetapi, sering terjadi tugas lektor ditunjuk secara serta merta. Dalam kondisi darurat sperti itu, persiapan maksimal yang dapat dilakukan adalah membaca naskahnya terlebih dahulu. Membaca kalimat-kalimat yang pernah dibaca sebelumnya akan lebih lancar dibanding yang belum pernah dibaca.





Persiapkan Batiniah Diri
Tugas lektor adalah membacakan Sabda Tuhan. Oleh karena itu, suasana religius perlu diciptakan sejak awal. Di beberapa gereja, ada kebiasaan prodiakon, lektor, dan putra altar sebelum bertugas melakukan ritual doa bersama. Hal tersebut sebagai salah satu cara menyiapkan diri memasuki suasana religius. Doa tersebut umumnya dirumuskan secara spontan, yang isinya memohon karunia Roh Kudus agar berkenan memberkati dan menyertai dalam tugas pelayanan agar pelayanan tersebut semakin mendewasakan (yang dilayani dan yang melayani).

Bersiap dalam Pelaksanaan Tugas
Pada tahap pelaksanaan, seorang lektor tentu sudah mengenali tempat dan posisi tubuh (berdiri, berlutut, duduk) ketika membaca. Hal tersebut disesuaikan dengan ruang, jumlah umat, dan fasilitas yang tersedia. Oleh karena itu, seorang lector harus menargetkan bahwa ia akan membacakan dengan baik, bacaan yang akan ia bacakan itu dapat diteima dan dipahami oleh seluruh umat yang hadir saat Perayaan Ekaristi.

Copyright © Panduan Lektor | herjuna.com | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com