Jumat, 29 Januari 2016

Empat Tips Menjadi Seorang Lektor

Umat tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat pembaca. Hal semacam itu harus diperhitungkan. Oleh karena itu, kalau pembaca ingin agar pembacaanya disambut dengan baik, haruslah ia menjaga agar sikap, cara berpakaian, gerak-gerik dan seluruh penampilannya dapat diterima dengan baik pula. Pembaca harus berkontak dengan para pendengarnya, tetapi usaha untuk berkontak dapat digagalkan oleh penampilannya yang kurang sedap. Maka di bawah ini dijelaskan beberapa cara agar pembaca membacakan dengan tenang dan baik versi web Panduan Lektor | SilSurya.xyz.




Perhatikan cara berjalan
Berjalan ke mimbar harus tenang, sopan tapi tegak. Jangan terburu-buru, seperti dikejar anjing. Jangan pula berjalan seperti orang yang diseret ke pangadilan atau terhuyung-huyung seperti orang mabok.

Perhatikan cara berdiri
Berdiri tegak, pakailah dua kaki. Dengan berdiri tegak, anda sendiri akan merasa lebih mantap.

Perlakukan Kitab Suci dengan hormat
Buku bacaan sebaiknya dipegang dengan dua tangan dan diangkat cukup tinggi, supaya pembaca dapat membacakan tanpa menundukkan kepala. Kalau ada sesuatu untuk meletakkan buku di atasnya, sebaiknya tangan tidak lepas, tetapi diletakkan di pinggir mimbar. Bukannya untuk bersandar di mimbar, tetapi untuk menampakkan bahwa buku bacaan dengan pembaca merupakan kesatuan.
Perlu diperhatikan bahwa mimbar bukanlah perpustakaan. Maka jangan menumpuk macam- macam buku di mimbar. Jangan meletakan buku di lantai altar atau di bawah altar. Jangan meletakkan macam-macam sobekan kertas dan catatan dalam buku bacaan, tetapi tentukanlah pita atau kertas tertentu sebelum mulai membaca atau pakailah sebuah penunjuk halaman yang pantas. Jangan melipat sudut halaman buku. Untuk membalikkan halaman jangan membasahinya dengan air ludah. Jangan mencemarkan buku dengan catatan atau corat-coret.

Pakaian
Pakaian pantas untuk seorang lektor ialah bersih, sopan, sederhana, dan tidak terlalu menarik perhatian. Hal yang sama berlaku untuk sepatu, potongan rambut dan perawatan kuku tangan. Apakah seorang lektor sebaiknya berjubah atau berseragam lain, atau berpakaian setelan atau yang lain lain, tergantung dari situasi atau tradisi setempat. Pakaian apa yang sesuai tergantung dari corak perayaan liturgi apa yang diadakan.

Hal Teknis yang Harus Diketahui Oleh Lektor

Lektor bertugas untuk membacakan orang lain. Dalam kategori teknis termasuk kegiatan membaca nyaring. Kenyaringan dimaksudkan agar umat dapat mendengar dengan jelas, mengikuti dengan nyaman, dan menangkap isinya dengan tepat. Untuk mewujudkan semuanya itu, seorang lektor perlu melaksanakan beberapa tahap. Tahapan ini meliputi persiapan lahir, teknis, dan batin. Secara umum, persiapan diarahkan agar ketika membacakan Sabda Tuhan, pendengar terbantu memusatkan perhatian pada isi bacaan. Berikut ulasan tahapan-tahapan yang harus dilakukan lektor versi web Panduan Lektor | SilSurya.xyz.



Persiapan lahiriah
Persiapan lahiriah berkaitan dengan penampilan lahiriah seorang lektor. Persiapan lahiriah mulai dari pakaian, make up, tata rambut, sepatu, dan sebagainya diupayakan membantu lektor untuk membacakan Sabda Tuhan. Untuk lektor Gereja Katolik, perhatikan Pedoman Umum Missale Romawi yang menyebut bahwa akolit, lektor dan pelayan awam  lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gereja yang bersangkutan (PUMR 339).
Penampilan yang wajar lebih membantu dibandingkan yang mencolok. Demikian juga make up, tata rambut, sepatu, dan aneka aksesori yang lain (pada beberapa gereja seorang lektor tidak memakai alas kaki seperti sepatu atau sandal saat bertugas). Hak sepatu yang bersuara nyaring akan menarik perhatian umat dan mengganggu perhatian pada isi bacaan. Yakinan kondisi fisik dalam kedaan sehat dan berfungsi normal (tidak sedang flu, batuk, pilek, sariawan, sakit gigi, tenggorokan kering, dan sebagainya).

Persiapan teknis
Lektor harus mengenali konvensi penulisan dan pembacaan kutipan bacaan. Pada perjanjian lama senantiasa menempatkan nama kitab (Kejadian, Keluaran, Amsal), penulis kitab (Yesaya, Yeremia, Yoel, Amos, dan sebagainya, atau tokoh kitab (Raja-raja, Hakim-hakim). Konvensi penulisannya nama kitab/ penulis/ tokoh diikuti bab:ayat seperti pada contoh berikut.



Konvensi   Penulisan
                                                                         Konvensi Pembacaan
Kejadian 1:1-31
Kitab kejadian, bab satu, ayat satu  sampai tiga puluh satu
Yeremia 3:6-13
Kitab Nabi Yeremia, bab  tiga, ayat enam  sampai tiga belas.
I Tawarikh 9:35-44
Kitab pertama  Tawarikh, bab sembilan, ayat tiga puluh lima sampai empat puluh empat.
Daniel 12:1-13
Kitab Daniel, bab 12, ayat satu sampai tiga belas.


Dalam Liturgi Sabda di mayoritas gereja, lazimnya hanya dibacakan bab dan ayat saja. Jadi pengucapannya tidak menyertakan tema bacaan, seperti pada contoh berikut:
Pembacaan dari Kitab Kejadian 1:1-2:1
Lalu bagaimana untuk pembacaan perjanjian baru? Perjanjian Baru dikelompokkan menjadi dua, yaitu Injil dan bukan Injil. Dalam tradisi Kristen, terdapat empat Injil, yakni Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Yang bukan Injil adalah Kisah Para Rasul, Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma, Surat Santo Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus, Surat Santo Paulus yang Kedua kepada Timotius, Surat Yakobus, Surat Petrus yang Pertama, Surat Petrus yang Kedua, Wahyu kepada Yohanes, dan sebagainya. Konvensi penulisannya sebagai berikut:



Konvensi   Penulisan
                                                                         Konvensi Pembacaan
Mark. 6:1-5
Injil Markus, bab enam, ayat satu sampai lima
Ibrani 11:1-40
Surat kepada orang Ibrani, bab sebelas, ayat  satu  sampai empat puluh
Roma 1:1-7
Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, bab satu ayat satu samapai tujuh
II Kor 4:1-15
Surat Santo Paulus yang kedua kepada Jemaat di Korintus, bab 4, ayat satu sampai lima belas
II Tim 2:1-13
Surat Santo Paulus yang Kedua kepada Timotius, bab dua, ayat satu sampai tiga belas
II Petrus 1:1-2
Surat Santo Petrus yang kedua, bab satu, ayat satu sampai dua
Wahyu 11:15-19
Wahyu kepada Yohanes, bab sebelas, ayat lima belas sampai Sembilan belas


Dalam Liturgi Sabda di gereja dan juga di kampus, lazimnya bab dan ayat tidak dibacakan. Jadi untuk Injil dibaca Inilah Injil Yesus Kristus meurut Santo Matius. Untuk yang bukan Injil hanya dibaca: pembacaan dari Kisah Para Rasul, dan sebagainya, seperti pada contoh berikut.
Bacaan Injil: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Santo Matius 28:1-10
Bacaan Non-injil: Pembacaan dari surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma 6:3-11
Yang tak kalah pentingnya adalah seorang lektor harus mengenali tempat,orang, benda, dan peristiwa. Kitab Suci berisi kisah-kisah yang berasal dari lingkungan geografis, alam, sosial, dan budaya yang tertentu yang berbeda dengan lingkungan, geografis, alam sosial, dan budaya Indonesia. Oleh karena itu, seorang lektor sebaiknya mengetahui dan membedakan nama tempat, orang, benda, peristiwa dan sebagainya. Hal tersebut membantu lektor dalam mengintepretasi secara tepat.

Cara Mempersiapkan Diri dalam Pelayanan Lektor


Untuk mempersiapkan diri dalam melaksanakan tugas sebagai lektor, diperlukan latihan dan pratik membacakan Sabda Tuhan sebelum melaksanakan pembacaan di Mimbar Sabda. Praktik membacakan menurut persiapan teks yang akan dibaca dan menetapkan pendengar. Biasanya, teks Perayaan Ekaristi/Ibadat sudah dicetak oleh gereja. Hal tersebut mengasumsi bahwa naskah sudah dapat diperoleh sebelumnya. Cara tersebut sekaligus untuk mengoreksi kemungkinan ada salah tulis atau salah kutip agar dapat diupayakan mencari rumusan yang sebenarnya.
Praktik membacakan Sabda Tuhan dapat dilakukan di rumah dengan memanfaatkan anggota keluarga sebagai umat (jika ada anggota keluarga) atau teman di sekitarnya. Setelah praktik membacakan Sabda Tuhan, anggota keluarga atau teman yang berlaku sebagai umat, diminta mengomentari dan member saran yang perluh dibenahi. Akan tetapi, sering terjadi tugas lektor ditunjuk secara serta merta. Dalam kondisi darurat sperti itu, persiapan maksimal yang dapat dilakukan adalah membaca naskahnya terlebih dahulu. Membaca kalimat-kalimat yang pernah dibaca sebelumnya akan lebih lancar dibanding yang belum pernah dibaca.





Persiapkan Batiniah Diri
Tugas lektor adalah membacakan Sabda Tuhan. Oleh karena itu, suasana religius perlu diciptakan sejak awal. Di beberapa gereja, ada kebiasaan prodiakon, lektor, dan putra altar sebelum bertugas melakukan ritual doa bersama. Hal tersebut sebagai salah satu cara menyiapkan diri memasuki suasana religius. Doa tersebut umumnya dirumuskan secara spontan, yang isinya memohon karunia Roh Kudus agar berkenan memberkati dan menyertai dalam tugas pelayanan agar pelayanan tersebut semakin mendewasakan (yang dilayani dan yang melayani).

Bersiap dalam Pelaksanaan Tugas
Pada tahap pelaksanaan, seorang lektor tentu sudah mengenali tempat dan posisi tubuh (berdiri, berlutut, duduk) ketika membaca. Hal tersebut disesuaikan dengan ruang, jumlah umat, dan fasilitas yang tersedia. Oleh karena itu, seorang lector harus menargetkan bahwa ia akan membacakan dengan baik, bacaan yang akan ia bacakan itu dapat diteima dan dipahami oleh seluruh umat yang hadir saat Perayaan Ekaristi.

Teknik Gerak untuk Lektor



Untuk menciptakan  liturgi yang indah dan anggun, tetntunya dituntut tata gerak yang baik dan teratur. Istilah tata gerak mencakup juga:
  1. Tindakan dan perarakan iman bersama diakon, lektor, dan para pelayan lain dalam menuju altar;
  2. Perarakan diakon yang membawa kitab Injil menuju  mimbar sebelum pemakluman Injil;
  3. Perarakan umat beriman yang menghantar bahan persembahan dan maju untuk menyambut komuni.



Hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun, sesuai dengan kaidah masing- masing gereja atau tempat merayakan liturgi, dan diiringi dengan nyanyian yang serasi. Dalam perarakan masuk, semua petugas liturgi harus memperhatikan  tata gerak supaya semua yang hadir dalam perayaan ekaristi sungguh terbantu dan merasakan kehadiran Allah.


Berikut teknik gerak yang perlu diperhatikan oleh para lektor, khususnya lektor dari Gereja Katolik: 

RITUS PEMBUKA
Setelah jemaat berkumpul, imam dan para pelayan  liturgi, dengan mengenakan busana liturgis masing- masing, berarak menuju altar. Urutan yang berlaku di gereja kampus adalah sebagai berikut:
  • Pelayan yang membawa pedupaan berasap, jika dipakai dupa.
  • Pelayan- pelayan  lain yang membawa lilin bernyala, mengapit akolit atau pelayan lain yang membawa salib.
  • Para akolit dan pelayan- pelayan yang lain.
  • Lektor; dapat membawa Buku Bacaan Ekaristi  (Lectionarium) yang sedikit diangkat.
  • Imam yang memimpin Perayaan Ekaristi kalau dipakai dupa, sebelum perarakan dimulai, imam membubuhkan dupa kedalam pedupaan dan memberkatinya dengan tanda salib tanpa mengatakan apa-apa.
Pada waktu menuju altar, umat menyanyikan nyanyian pembuka. Setibanya didepan altar, imam dan para pelayan membungkuk khidmat. Kalau dalam perarakan ini dibawa salib, maka salib itu dipajang di dekat altar sehingga berfungsi sebagai salib altar, dan hanya salib itulah yang harus digunakan; kalau ada salib lain di altar, lebih baik salib perarakan ini dipajang di di tempat lain (di luar panti iman). Lilin- lilin yang dibawa oleh para pelayan, ditempatkan di dekat altar.
Imam menuju altar dan menciumnya sebagai tanda penghormatan. Iman mendupai altar kalau ada dupa. Imam pergi ke tampat duduk, juga lektor, akolit dan para pelayan lain pergi ke temnpat duduk. Semua tetap berdiri dan jika nyanyian pembuka selesai, imam bersama dengan seluruh umat membuat tanda salib sementara imam berkata: “Dalam (Demi) nama Bapa, dan Putra, dan Roh kudus”, dan umat menjawab: “Amin”.
Kemudian imam memberi salam kerpada umat. Ia mengadap ke umat, membuka tangan dan mengucapkan salah satu  rumus salam yang tersedia. Kemudian  imam atau seorang pelayan lain menyampaikan kata pengantar amat singkat tentang Ekaristi yang dirayakannya. Kemudian menyusul pernyataan tobat. Sesudah itu, dilagukan atau diucapkan Tuhan Kasihanilah Kami sesuai dengan petunjuk rubrik. Seturut ketentuan, kemudian dilagukan atau diucapkan Kemuliaan.
Lalu, sambil membukan tangan, imam mengajak umat: “Marilah kita berdoa”, lalu lansung mengatupkan tangan. Semua hadirin bersama imam berdoa sejenak dalam hati. Setelah itu imam merentangkan tangan dan membawakan doa pembuka (kolekta), yang ditutup oleh umat dengan seruan: “Amin”.
 

 LITURGI SABDA
Beberapa kata sebelum imam mengakhiri doa pembukaan, lector yang bertugas membacakan Bacaan I sudah maju ke depan altar dan berlutut, kemudian menuju ke mimbar. Setibanya di depan mimbar lektor tidak perluh lagi hormat kepada imam atau altar. Kalau ada tabernakel, lektor atau  pelayan lain membungkuk khidmat untuk menghormati Sakramen Maha Kudus yang bertahta di dalam Tabernakel.
Sebelum membacakan Kitab suci, lektor perlu mengatur nafas dan mengatur suara sambil memandang sekeliling umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi tersebut. Setelah doa pembukaan dan umat sudah siap untuk mendengarkan Sabda Tuhan, lektor membacakan Sabda Tuhan dengan suara lantang. Sesudah bacaan, lektor berseru: “Demikianlah Sabda Tuhan, dan umat menjawab: Syukur kepada Allah”. Tepat sekali jika sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak, supaya umat dapat merenungkan sebentar apa yang telah mereka dengar.
Sesudah membacakan bacaan I, lektor kembali duduk ke tempatnya tadi. Di depan mimbar tidak perluh membungkuk lagi, kalau sudah sampai di depan altar baru lektor berlutut seraya hormat kepada imam dan altar. Lalu kembali duduk di tempat duduk. Sesudah bacaan I, pemazmur atau lektor sendiri membawakan ayat- ayat Mazmur Tanggapan. Umat menanggapi dengan menyerukan/ melagukan ulangan. Pada saat pemazmur menyanyikan ayat terakhir, lektor yang bertugas membacakan bacaan II mulai maju ke mimbar untuk bersiap- siap membacakan Sabda Tuhan. Kemudian, semua berdiri untuk melagukan Bait Pengantar Injil dengan atau Alleluia sesuai dengan masa liturgy.
Setelah melagukan Bait Pengantar Injil, jika dipakai dupa, imam mengisi pedupaan dan memberkatinya. Kemudian, imam mengatupkan tangan, membungkuk khidmat menghadap altar sambil berdoa dalam hati: “Sucikanlah hati dan budiku….” Di mimbar imam membuka Kitab Suci dan  sambil membuka tangan berkata: “Tuhan sertamu”, lalu mengatupkan tangan. Umat menjawab: “Dan sertamu juga”. Kemudian imam berkata: “Inilah Injil Yesus Kristus menurut … dengan ibu jari imam membuat tanda salib pada Injil yang akan diwartakan, lalu pada dahi, mulut, dan dadanya. Hal yang sama dilakukan oleh umat. Umat menyerukan aklamasi: “Dimuliakanlah Tuhan”. Jika dipakai dupa, imam memdupai kitab suci. Sesudah itu imam mewartakan Injil, dan sesudah pewartaan, ia melagukan atau menyanyikan aklamasi: “Demikianlah Sabda Tuhan”, yang dijawab umat dengan seruan: “Terpujilah Kristus”. Sesudah itu imam mencium Kitab Injil sambil  berdoa dalam hati: “Ya Tuhan, karena pewartaan Injil ini, hapuskanlah dosa kami”.
Setelah mewartakan Injil, imam sambil berdiri di dekat mimbar atau di tempat lain yang dianggap nyaman, di tempat yang serasi, imam menyampaikan homili. Setelah selesai homili, imam mengajak umat memanjatkan bersama- sama doa Syadat Para Rasul (Aku Percaya). Beberapa kata sebelum  Doa Aku Percaya selesai diucapkan atau di nyanyikan, lektor  yang bertugas membacakan doa umat menuju mimbar. Lektor membacakan doa umat sesuai kode yang ditentukan di teks bacaan doa umat. Dalam teks doa umat, sebelum imam menutup doa umat, ada saat dimana imam, pelayan liturgy lain serta seluruh umat menghening sejenak untuk menyampaikan permohonan masing- masing kepada Tuhan. Lektor menyampaikan kata-kata saat hening kalau imam tidak menyampaikan kata- kata hening sejenak tersebut.

LITURGI EKARISTI

Pemimpin ibadah/Perayaan Ekaristi mempersiapkan persembahan yang akan dikonsekrasikan di atas meja altar. Imam memberkati persembahan umat dari umat. Imam melanjutkan dengan doa persembahan. Sampailah kepada puncak Perayaan Ekaristi yakni imam mengubah roti menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus (Doa Syukur Agung). Setelah Doa Syukur Agung, dilanjutkan dengan menyanyikan/ mendaraskan Doa Bapa Kami, di susul dengan Doa Damai  beserta Salam Damai. Imam beserta para umat menyanyikan/ mendaraskan Doa Anak Domba Allah. Setelah itu, imam dan para prodiakon membagikan membagikan komuni sementara umat menyanyikan lagu Komuni.

RITUS PENUTUP

Setelah merayakan perjamuan kudus yaitu menyambut Komuni Suci, imam merentangkan tangan untuk berdoa penutup. Imam berkata: “Marilah kita berdoa”. Kemudian imam menyampaikan doa penutup. Beberapa kata sebelum  imam selesai doa penutup, lektor yang bertugas membacakan doa umat maju ke mimbar umtuk menyampaikan pengumuman kepada umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi itu. Setelah lektor menyampaikan pengumuman, imam memberikan berkat penutup dan pengutusan kepada umat. Imam berkata: “Dengan demikian Perayaa Ekaristi pada …hari ini telah selesai”, umat menjawab: “Syukur kepada Allah”. Lanjut imam berkata: “Marilah kita pergi …”, dan umat menjawab: “Amin”.
Saat imam serta pelayan lain turun ke depan altar, lektor juga maju ke depan altar, berlutut bersama menghadap altar. Uruntanya: lektor berdiri di belakang rombongan putra/i altar, sedangkan imam berdiri di tengah- tengan putra/i altar. Selesai berlutut menghormat altar, imam serta para pelayan liturgi lainnya pulang menuju ke sakristi yang letaknya di belakang umat. Urutannya ikuti petunjuk penjelasan di atas.

Copyright © Panduan Lektor | herjuna.com | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com